Pasar Modal Syariah di Indonesia

oleh : Muhammad Thariq Audah
06 April 2018


Pasar modal sejatinya merupakan tempat bagi pemilik modal dan peminjam modal untuk saling bertemu. Pada era modern ini, pasar modal sudah berkembang sedemikian pesat menjadi wadah bagi penerbitan serta perdagangan berbagai instrumen efek seperti saham, surat berharga, serta instrumen-instrumen derivatif.

Perkembangan pasar modal yang masif tersebut turut melahirkan serta mendorong berkembangnya beragam produk investasi yang berlandaskan prinsip syariah Islam. Produk investasi syariah ini kemudian membentuk pasar modal syariah sebagai alternatif wadah investasi bagi pemilik modal. Nilai atau value yang terkandung di dalamnya sejalan dengan prinsip-prinsip yang dijelaskan dalam agama Islam. Instrumen-intrumen pasar modal syariah misalnya adalah saham syariah, sukuk (surat berharga syariah), dan reksadana syariah.

Pasar modal syariah pada dasarnya juga berlandaskan pada hukum positif yang berlaku di Indonesia seperti halnya pasar modal konvensional. Namun selain itu, pasar modal syariah juga mengakomodasi hukum Islam sebagai landasan utamanya. Pasar modal syariah mengatur beberapa hal secara khusus yang tidak diatur dalam pasar modal konvensional. Misalnya usaha atau bisnis yang dijalankan perusahaan terkait haruslah usaha yang halal dan baik. Jenis efek yang diperdagangkan juga tidak bertentangan dengan prinsip syariah seperti efek berbasis utang. Selain itu, transaksi atau akadnya juga harus jelas serta tidak mengandung spekulasi dan manipulasi.

Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi pangsa pasar modal syariah yang sangat besar. Tidak hanya menarik bagi investor domestik, pasar modal syariah Indonesia juga menjadi salah satu tujuan bagi investor asing seperti dari Timur Tengah yang menginginkan investasi yang sesuai dengan syariah namun juga dengan return yang kompetitif.

Perkembangan pasar modal syariah Indonesia sendiri sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan, market share saham syariah mencapai 54,1% per April 2016. Sedangkan sukuk memiliki market share sebesar 17,4% pada periode yang sama. Ke depannya, pasar modal syariah masih sangat berpotensi untuk terus tumbuh berkembang.